13 Pengalaman Hidup Perantau yang mungkin pernah Kamu rasakan

3 Komentar

Pernahkah kamu meninggalkan Kampung halaman selama bertahun-tahun? Merantau. Merantau adalah sebuah pilihan hidup. Ada yang memulainya sejak SMP, kuliah, atau selepas kuliah. Kapan pun dimulai, akan tetap ada banyak hal yang diajarkan dalam kehidupan seorang perantau yang tidak bisa didapat oleh mereka yang terus meringkuk di zona nyaman yah di rumah.

Ketika pilihan merantau sudah diputuskan, akan ada banyak hal yang akan kamu lewati. Banyak perasaan baru yang akan kamu pelajari nantinya. Dan akan ada lebih banyak kenangan yang akan terukir di tempat baru.

1. Waktu berangkat adalah saat Terberat meninggalkan keluarga tercinta

Waktu yang sudah ditetapkan sebagai tanggal keberangkatanmu ke luar kota pasti akan membekas di ingatanmu. Melihat orang tua atau saudara yang membantu mengemasi barang bawaanmu, mereka yang bersiap melepasmu pergi jauh dari mereka, justru membuatmu semakin enggan meninggalkan rumah yang selama ini memberikan keteduhan.

Sebenarnya itu hal yang tajar, karena di tempat asalmu pasti ada banyak kenangan yang tak mudah dilupakan. Kenangan bersama teman-teman, orang tua, saudara, dan lingkungan yang kadang membuatmu nyaman.

2. Lambaian tangan Orang rumah terlihat seperti Ajakan untuk segera Pulang

Ketika mereka melambaikan tangan tanda bersiap untuk berpisah denganmu, kamu justru merasa itu adalah ajakan agar kamu segera pulang. Terminal Bus, Stasiun Kereta, Pelabuhan, atau Bandara mungkin akan jadi tempatmu merasakan hal ini. Keinginan untuk menjadi lebih mandirilah yang membuatmu untuk mampu melewatinya.

3. Malam-malam Pertama di Perantauan, selalu Terbayang nyamannya semua tempat di Rumah tersayang

Beruntung jika kamu bisa mendapatkan kamar kos yang baik, atau bahkan eksklusif dengan semua kelengkapannya. Namun jika kamu mengawali perantauan dengan kisah pedih, hanya kamar 3×3 tanpa isi, belum lagi cat dindinh yang mulai mengelupas, dan lantainya yang begitu dingin, tentu saja mengerikan.

Akhirnya, kamu merasa bahwa semua tempat dirumahmu dulu begitu jauh lebih nyaman untuk ditinggali. Tidak ada tempat senyaman rumah saat kamu mengalami perasaan seperti ini untuk pertama kalinya. Bayangan akan rumah selalu mengikuti meski mata ingin terpejam. Namun kamu tidak menyerah, kan?

4. Meski tak Mudah, menjalani Kehidupan sendiri juga membuatmu lebih Bersyukur

Di kota yang baru, tentu kamu akan langsung merasakan suasana yang jauh berbeda. Sekarang kamu dituntut untuk jadi lebih mandiri, mengatur keuangan sendiri dengan baik, dan menghargai apapun yang ada di kamar kosmu.

Makanan, minuman, bahkan hanya air putih akan menjadi barang berharga di awal kamu merantau. Belum ada dispenser, boros jika harus membeli terus menerus, belum lagi jika malam-malam terbangun dan kamu menyadari tak ada minuman segelas pun di kamar.

5. Tiga bulan Pertama, adalah tentang isak Tangis dan Kerinduan akan Rumah

Saat-saat terberat di perantauan biasanya adalah saat tiga bulan pertama. Kamu belum hafal semua tempat di tempat baru, belum banyak mengenal teman-teman baru, belum memiliki lingkungan pergaulan yang baru, dan harus belajar bagaimana terus bertahan hidup dengan apa yang kamu miliki.

Ya, tiga bulan pertama yang sangat berat. Belum lagi kekhawatiran orang tuamu yang semakin membuatmu menyadari betapa berartinya mereka.

6. Setelah itu, kamu mulai Menikmati proses demi proses Adaptasi yang harus dilalui

Memiliki beberapa teman baru yang setiap hari bertemu, sangat membantumu melewati proses adaptasi di tempat barumu. Memiliki tempat makan langganan, dan sedikit demi sedikit melengkapi kebutuhan yang harus ada di kamar kos.

Kamu sukses melewati tantangan berat sebagai perantau pemula. Perlahan kamu mulai menikmati, sedikit demi sedikit pemikiranmu tumbuh semakin dewasa dalam menyikapi segala hal. Kemampuan beradaptasi, adalah kemampuanmu untuk mempertahankan diri di tempat barumu.

Sampai sejauh ini, kamu tidak ingin semuanya sia-sia kan? Kamu mulai fokus hanya pada tujuanmu pergi merantau, yang pada akhirnya adalah untuk membahagiakan mereka yang menyelipkan namamu dalam setiap doanya.

7. Berhemat adalah sebuah Perjuangan untuk tetap bisa Makan hingga akhir bulan

Kebutuhan hidupmu ternyata semakin meningkat. Jika masih sekolah atau kuliah, ada buku yang harus dibeli ataupun di foto copy. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang juga semakin terlihat. Berhemat, adalah hal yang wajib yang harus kamu lakukan jika tak ingin kehabisan uang sebelum kiriman selanjutnya datang.

Pada titik ini, kemampuanmu bertahan dengan hal-hal seadanya juga sangat diuji. Karena bagaimanapun, kamu tidak ingin terus-menerus minta tambahan uang bulanan kan? Kadang, kamu juga harus benar-benar menutup mata. Apalagi jika ada diskon besar-besaran, entah itu fashion, bazar buku, atau bahkan kegiatan positif yang memang membutuhkan investasi berupa uang.

8. Kamu mulai Pintar bagaimana mencukupi Diri di Perantauan

Semakin lama di perantauan, kamu mulai malu jika harus terus menerus meminta kiriman uang dari orang tua di rumah. Kamu mulai berfikir bagaimana cara mencukupi kebutuhan tanpa tambahan uang bulanan yang mungkin akan sedikit merepotkan keluarga di rumah.

Mencari kerja part-time, mencari segala informasi tentang bagaimana cara mendapat penghasilan tambahan, dan menekuni hobi yang siapa tahu bisa menghasilkan uang. Ya, sampai disini, kamu sudah semakin siap untuk hidup lebih mandiri.

9. Lingkungan Pertemanan akan sangat mempengaruhi Hidupmu kemudian

Di perantauan, kamu merasa lebih bebas ketimbang berada di rumah. Tidak ada orang tua yang selalu mengawasi setiap gerak gerikmu. Namun, situasi seperti itu juga yang memaksamu belajar bagaimana arti sebuah tanggung jawab. Kamu bebas bermain, pergi sampai larut malam, namun tetap ada konsekuensi yang harus ditanggung demi cita-cita yang akan kamu bawa pulang ke kampung halaman.

Pergaulanmu bersama teman-teman di perantauan cukup banyak mempengaruhi bagaimana kamu berpikir. Kamu mulai memiliki teman-teman yang sederhana, glamor, akademik oriented, atau pun mereka yang terlihat aneh namun justru produktif dalam berkarya.

10. Di perantauan sungkan Pulang, sesampainya di rumah Enggan berangkat lagi

Saat kamu pulang ke kampung halaman, perasaan seperti inilah yang dimiliki seorang perantau. Apalagi jika kamu termasuk anak rantau yang jarang pulang ke kampung halaman. Saat berada di perantauan, kamu mulai menikmati setiap proses hidup yang membuatmu merasa sungkan untuk pulang jika hanya sebentar. Namun sesampainya di rumah, kamu justru merasa enggan mengemas barangmu untuk berangkat lagi.

11. Kamu merasa, tidak ingin Perantauanmu sia-sia

Menghadapi kesulitan yang seolah bertubi-tubi datang, kadang membuatmu ragu apakah bisa berhasil menggapai cita-citamu di perantauan. Tentu saja, kamu juga tidak ingin perjuanganmu sia-sia setelah lama meninggalkan kampung halaman. Di fase inilah pergolakan batin antara optimis dan pesimismu benar-benar diuji.

12.  Semua yang sudah kamu lalui di Perantauan membuatmu tumbuh menjadi Pribadi dewasa

Dunia rantau dengan segala lika-likunya berhasil mengajarimu banyak hal tentang arti kerinduan, perjuangan, dan kehidupan yang lebih luas. Kini kamu mulai lebih bijak menghadapi sesuatu, menghadapi masalah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Kamu semakin realistis menghadapi kehidupan yang berat, namun tetap optimis bahwa perjuanganmu tidak pernah sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Dari merantau, kau tahu menapa dulu orang tuamu begitu berat melepasmu sendirian. Dari merantau, kau belajar menghargai waktumu ketika pulang. Dan dari merantau juga, kau paham betul seperti apa cintamu pada kampung halaman.

Kesulitan demi kesulitan yang kamu lalui, secara tidak langsung menempamu menjadi manusia yang lebih bijak. Kamu mulai mengerti betapa beratnya orang tua mengusahakan apa yang terbaik buatmu. Kerinduanmu pada mereka semakin dalam, dan keinginanmu untuk segera menggapai cita-cita kian memuncak.

13. Sampai akhirnya, kamu siap Mengusahakan yang Terbaik, dengan doa yang terus Mengalir dari orang-orang di rumah

Kini kamu sudah lebih siap menghadapi hidup yang sebenarnya. Tidak cengeng dan sedikit-sedikit merengek. Kamu sudah tau bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menebus sebuah cita-cita mulia. Waktu, tenaga, pikiran, akan selalu kamu curahkan demi bisa mewujudkannya.

Mungkin saja kamu sempat salah langkah, mungkin kamu pernah keliru. Namun kamu menyadari bahwa, ada hal-hal penting yang bisa dilakukan untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Fokus pada apa yang dimiliki dan bisa dilakukan, sambil terus mengupayakan apa yang kamu cita-citakan. Hingga akhirnya kamu berhasil dan menjadi orang yang sukses di perantauan.

3 KOMENTAR

  1. Rini Mengatakan...

    Tempat ternyaman adalah rumah. makanan terlezat masakan ibu. tiap pulkam terus mau balik ke perantauan cuma bisa merenung di jalan. sedih, tapi harus pergi, demi masa depan. cuma bisa doa semoga masih bisa pulang dan melihat org tua sehat…

    Komentar Rini pada tanggal 02 Des 2018
  2. Ramly Haba Mengatakan...

    Benar bgt itu mbak eh.

    Komentar Ramly Haba pada tanggal 04 Des 2018
  3. Michaelhed Mengatakan...

    Hey Virtuous hearsay ! an fascinatingforth
    To controlled click on the link in this faction

    http://bit.ly/2PxiZjr

    Komentar Michaelhed pada tanggal 12 Des 2018

Tinggalkan Komentar Anda

Karena Alasan Keamanan, semua Komentar akan ditahan untuk Moderasi. Komentar Anda akan ditampilkan setelah disetujui Administrator. Gunakan Email anda yang masih aktif agar dapat menerima Notifikasi saat Komentar Anda dibalas.

Kolom ini Wajib diisi. Harap isi Komentar Anda disini...!!!
Kolom ini Wajib diisi. Harap isi Nama Anda disini...!!!