Apakah dia Jodohku? – Is he the One?

Cinta itu gampang-gampang susah. Jatuh cintanya gampang, tapi menentukan pilihan yang tepatnya susah. Jangankan dari pacaran menuju ke pelaminan, dari kenalan jadi pacaran aja kadang banyak yang jadi pertimbangan. Dari kaki sampai ujung rambut jadi perhatian, dari isi hati sampai isi dompet pun jadi Persyaratan. Hahaha Ada-ada aja.

Ada yang udah mapan dan tampan tapi kesetiaannya diragukan, ada yang tampangnya pas pasan tapi kaya raya dan jutawan. Kemana mana diantarin pake mobil pribadi, tapi ternyata punya Papi Mami. Kemana mana selalu dibayarin sama do’i, tapi posesif dan cemburu hati.

Bukan cuma soal materi tapi juga Hati, udah bertahun tahun pacaran tapi keluarga masih juga belum merestui. Bedah status sosial, bedah suku kadang jadi persoalan. Hati jadi bingung sendiri jadi gak karuan. Is he the one?

Akhirnya mulai pilih-pilih lagi. Bikin kriteria mencari calon pasangan tercinta. Harus tanpan, mapan dan beriman, sabar, pintar, bisa main gitar, humoris, gak egois dan bisa di ajak jalan-jalan Honey Moon ke paris, sayang keluarga, mau nemenin belanja, enak buat jadi teman bicara, lulusan S2, Stop stop stop!

Ingat! Dia itu juga Manusia, bukan Dewa. Cinta itu bukan mencari pasangan yang sempurna, bukan juga seperti cerita Cinderella. Sering kali cinta itu tidak mudah, butuh usaha dan juga sikap dewasa. Cinta itu tidak hanya bicara hal-hal yang indah, bukan juga hanya merencanakan Hari ini mau Nge-date dimana. Tapi harus bisa duduk bersama, merencanakan masa depan bersama, mau nikah dimana, mau punya anak berapa, kapan beli rumah. Hmnthhh Jadi kepikiran kan?

Is he the one?

Jangan berfikir punya pasangan dulu baru kamu bisa bahagia, tapi justru dengan kamu bahagia maka kamu pun lebih mudah menemukan pasangan. It’s not about finding the one, but preparing your self to be the one.

Jangan berharap punya pasangan yang jujur dan setia jika kamu sendiri masih sering curiga. Jangan berharap akan ada orang yang perhatian dan sayang kalau kamu sendiri masih suka cuek sama orang. Berharap dapat pasangan yang mapan dan kaya raya tapi kamu sendiri masih malas bekerja. Boleh-boleh aja menentukan standar tinggi, tapi kamu juga harus Introspeksi dan pantaskan diri. Setelah itu, ikuti kata hati, bukan kata papi mami, apalagi kata orang kanan kiri.

So, is he the one?

Mungkin pertanyaan ini bisa membantu kamu untuk memantapkan pilihan. “Apakah kamu nyaman menjadi dirimu sendiri disampingnya?”, “Apakah kamu bertumbuh menjadi lebih baik dengan kehadirannya?”, “Apakah kamu menjadi dewasa den lebih taqwa bersamanya?”, “Bisakah kamu membangun keluarga dengannya?”, “Bisakah kamu membayangkan menikmati hari tua disisinya?”.

Carilah dia yang mampu bertahan disaat susah, bersabar disaat lagi ada masalah. Carilah dia yang tidak akan pernah pergi dan lari darimu seberat apapun cobaan itu. Carilah dia yang bukan hanya mencintaimu apa adanya, tapi juga mencintai keluargamu dan setia, taat beribadah dan bisa membuatmu Bahagia. Bukan dia yang tidak akan berantem denganmu atau membuatmu sedih atau marah, tapi dia yang walaupun harus berantem sekalipun akan selalu berada di sisimu, menyeka air matamu, dan menggenggam tanganmu.

Dan kalau Orang itu sekarang sudah ada di sisimu. Bersyukurlah, because he is the one for you.

Tinggalkan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *