Kenapa harus Aku? – Kenapa bukan Dia?

0 Komentar

Hidup tak selalu berisi kesenangan belaka. Suatu ketika kita pasti akan mengalami pasang surut kehidupan. Kesenangan, kesedihan, mendapatkan, kehilangan, pertemuan, dan juga perpisahan. Semua itu tak dapat dihindari. Suatu kesempatan kita akan merasa begitu bahagia dan suka cita ketika kita mendapatkan sesuatu seperti yang kita inginkan. Tapi seperti hukum alam segala yang didapat lambat laun juga akan terlepas nantinya.

Dan sebagian dari kita terkadang siap Mendapatkan tapi tak siap Kehilangan. Saat apa yang kita ingin kita peroleh kita begitu bahagia, bersuka cita hingga tak berpikir tentang bagaimana rasanya ketika yang telah kita dapatkan itu hilang dari hidup kita.

Dan baru lah terasa ketika yang kita dapat tersebut lepas dari kehidupan kita. Sedih, kecewa, sakit hati, menangis, putus asa, bahkan terkadang menyalahkan Tuhan kenapa begitu cepat Tuhan mengambil kesenangan kita. Lalu kita terpuruk, dan tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan. Manusiawi sebetulnya sikap seperti itu.

Perasaan sedih, susah, senang, gembira itu menandakan bahwa kita adalah manusia. Masih punya hati. Dan sebagai manusia hal-hal yang berhubungan dengan hati dan rasa terkadang sulit dihindari. Semisal perasaan mencintai seseorang. Perasaan yang bisa datang tiba-tiba tanpa kita bisa menghindarinya. Dan kehilangan atau berpisah dengan orang yang dicintai sungguh sebuah perasaan yang menyakitkan.

MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK KEHILANGAN

Barangkali itu kalimat yang cocok ketika kita bersiap untuk mendapatkan, di sisi lain kita juga harus mempersiapkan diri untuk kehilangan. Kehilangan atau berpisah dengan seseorang yang disayang memang menyakitkan. Baik itu berpisah secara baik-baik atau berpisah secara terpaksa karena keadaan. Tapi bukankah hidup memang seperti itu.

Dan saat kita sampai pada perpisahan itu biasanya kita menjadi seseorang yang rapuh. Hidup seperti tak berwarna. Segalanya menjadi terasa begitu muram. Kita terkadang menjadi marah mengapa takdir begitu kejam terhadap diri kita. Perasaan itu boleh-boleh saja. Yang tidak boleh adalah tenggelam dalam rasa kecewa, murung, dan putus asa yang berkepanjangan. Dan kadang bertanya mengapa harus aku yang mengalami ini?

Tapi hidup harus terus berlanjut. Tak mungkin kita terus-menerus tenggelam dalam perasaan sedih yang melankolis. Dan yang bisa kita lakukan adalah mulai bangkit dan memotivasi diri-sendiri agar terus bisa berjalan ke depan. Memotivasi diri adalah hal paling penting agar kita bisa bangkit kembali. Karena yang paling mengerti tentang diri kita hanyalah kita sendiri. Yakinlah kepada Sang Pemberi Hidup bahwa kita adalah manusia yang Dia pilih untuk menanggung itu semua karena Dia percaya kita pasti kuat dan mampu.

Kita adalah pribadi yang terpilih dan bisa melalui itu semua dengan baik. Yakin bahwa semua ini adalah sesuatu yang terbaik yang Dia berikan kepada kita karena Sang Maha Kuasa begitu menyayangi kita. Dia ingin kita menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Pasrahkan kepadaNya bahwa semua yang saat ini sedang singgah di hidup kita adalah wujud kasih sayangNya.

Dan yakinlah bahwa di luar sana masih banyak orang lain yang mempunyai ujian hidup dan ditimpa beban yang lebih berat dari hidup kita. Yakini juga dalam diri bahwa ujian yang kita terima adalah sesuatu yang tidak lebih besar dari kekuatan yang kita punya. Dan kita akan bisa melaluinya dengan doa, kesabaran, dan kepasrahan.

Tinggalkan Komentar Anda

Karena Alasan Keamanan, semua Komentar akan ditahan untuk Moderasi. Komentar Anda akan ditampilkan setelah disetujui Administrator. Gunakan Email anda yang masih aktif agar dapat menerima Notifikasi saat Komentar Anda dibalas.

Kolom ini Wajib diisi. Harap isi Komentar Anda disini...!!!
Kolom ini Wajib diisi. Harap isi Nama Anda disini...!!!